December 17, 2008

Lapar VS Haus

Emang udah layaknya anak SMA merasakan jatuh cinta. Di kelas gue, murid-murid merasakan jatuh cinta paa orang yang dituju dengan keinginan untuk memiliki secara berlebihan. Mereka biasa disebut 'lapar' bagi para cowok-cowok dan 'haus' bagi para cewek-cewek.
Panggilan tersebuttidak berkonotasi negatif, sebenarnya hanya istilah biasa saja, tapi ya emang pada pengen punya pacar masalahnya jomblo semua. Hahaha, tapi kita semua teman yang saling mendukung satu sama lain sehingga tetep bisa bertahan.
Selasa, 16 Desember 2008, kami kelas IPA 2 sekelas pergi ke dufan untuk ngelepas kepanatan ulanga umum. Saking serunya waktu pun ga terasa. Saat kita pulang pun hampir tiba, yaudah kita mau cari wahana yang santai dan sepoi-sepoi untuk penenang wahan berpacu adrenalin, dan terpilihlah wahana cantik bianglala.
Wahana ini adalah wahana yang biasa kita pikirkan bersama pacar (yang belom ada) berdua romantis memandang lautan ancol. Kenyataannya, malah ada dua cangkir ekstrim bagi para single di kelas. Cangkir bianglala para lapar dan para haus. Gue termasuk di cangkir yang lapar (sayangnya) dan kita nyanyi2 lagu sheila on 7 sampe satu bianglala pengang. Ga disangka, karena semuanya lapar, anak-anak yang biasa jaim dan ga pernanh kedengaran suaranya di kelas pun nyanyi.
Begitu pula dengan cangkir para haus, ga ada bedanya. Sama-sama nyanyi lagu yang sendu-sendu mengharap akan datang seseorang yang membebaskan dari status tersebut. Hahaha.
Nah, ituleh perjalanan superseru di dufan dari mulai busway sampe tornado udah pernah kita naikin. Pengalaman yang asik banget. Buat para lapar dan haus, kita doain aja biar ga lama lagi bebas dari geng ini hahaha

December 13, 2008

It’s OK!

Inilah pelajaran hidup yang amat sangat berguna bagi siapa gue. Bokap gue selalu berceramah dengan berbicara It’s OK.
Contoh kasus:
Mba Santi: De, hehe gimana de? (sambil menjahili gue)
Bagus: Aduh apaan sih mba (lagi males)
Ibu: Santi, jangan bikin berisik dong! (terlalu emosian)
Mba Santi: Orang cuman bercanda juga. Kan kangen sama ade
Bagus: Iya bu
Ibu pun tetap ngedumel sampai akhirnya Bapak datang
Bapak: Buu, It’s OK. Hidup itu akan terasa lebih indah dan menyenangkan kalo misalnya kita selalu senyum dan berpikiran positif. Gantilah disket ibu yang tadinya marah-marah menjadi disket saling sayang sama semuanya. Yang penting It’s OK.

Naah, itulah yang selalu bokap gue katakan. Berpikir positif, ganti disket, and everything It’s OK. Dengan pengendalian diri kayak gini, ga perlu marah-marah kan? Gimana hidup ga menyenangkan coba kalo kita semua damai? Kunci nya cuman satu: It’s OK!

Ketekunan Membawa Hasil

‘Penting amat sih belajar piano?’ Mungkin orang amatir dalam bidang musik bakal ngomong gitu. Apalagi buat seorang cowok, biasanya olah raga. Yaah, gue harap artikel ini adalah sebuah informasi yang berguna buat siapa pun yang membaca.
Gue belajar piano dari umur 6 tahun atau kelas 1 SD sampai dengan sekarang kelas 2 SMA. Dan bukan sembarangan, gue belajar klasik. Betah amat ya? Awalnya gue eneg ngeliat piano kayak ngeliat makanan basi, pemaksaan nyokap bokap abis deh.
Tapi itu dulu, bedanya sama sekarang gue malah lebih mending latian piano berjam-jam daripada belajar pelajaran sekolah. Di musik ini gue bisa berekspresi, ngasah bakat, dan ngilangin stress. Apalagi setelah belajar jazz, makin oke deh improvisasi musik yang jauh berbeda dari klasik tapi keduanya sama-sama membangun keahlian gue bermain musik.
Otak kanan dan otak kiri lo bakalan terlatih banget, lo bisa melakukan dua hal dalam satu waktu tanpa memecah konsentrasi. Pemaksaan nyokap bokap ngeselin, sekarang berbuah menjadi kunci pintu keberhasilan. Dengan ini lo bisa bergaul dengan anak-anak lain (kayak diajak main band atau pun mengiringi buat acara-acara maupun lomba sekolah), keahlian lo ga bakalan diremehin, dan lo bisa nutupin kekuarangan lo bahkan menjadi suatu aset kelebihan yang berlebihan.
Sekarang gue mencintai musik ini kayak pasangan hidup gue sendiri. Tanpa ini gue bisa-bisa hidup stress dan hanya mikirin pelajaran ngebosenin di sekolah. Makasih ya Bapak dan Ibu serta para guru yang membimbing atas apa yang telah engkau ajarkan semuanya.
Satu hal lagi, buat cowok SMA yang bermain piano Jazz siap-siap milih cewek yang bakalan lo pacarin. Percaya sama gue, mereka ga bakal sanggup dengerin permainan lo tanpa jatuh hati sama lo. Hehehehehe.

(Artikel ini berdasarkan pengalaman nyata)

Kelas 2 SMA

Hampir semua orang di Indonesia yang udah mengalami mengatakan bahwa judul diatas adalah masa-masa paling indah. Dimana lo punya temen yang heboh, guru yang killer, kegiatan OSIS yang menantang, senior dan junior yang beragam, maupun pacar yang dinantikan. Dan sekarang, adalah masanya gue merasakan hal itu.

Udah setengah tahun gue kelas 2 SMA di Labsky. Gue cukup ngerti sebenernya mengapa orang bilang inilah masa yang paling indah. Disini gue merasa bisa ketawa dan bercanda sama semua orang di kelas ini. Wah, entah mungkin kelas kami emang orang-orangnya yang geblek sehingga sering ga peduli dengan nilai guru (untuk beberapa orang saja termasuk saya). Ketawa bareng terus tenatang hal yang ga bisa dimengerti sama kelas-kelas lain. Yaah, emang beda sih dari orang-orang nya pun udah ketauan.

Di setiap angkatan di sekolah mana pun ga bisa dipungkiri pasti ada orang-orang yang menonjol banget dibandingkan dengan temen-temen lainnya. Yang bikin kelas gue menyenangkan menurut gue karena, sebagian besar dari kita ga peduli dengan semua itu sama sekali. Kita ga peduli dengan becandaan, obrolan, kegiatan, maupun pergaulan dari orang-orang yang menonjol di angkatan tersebut. Asal kita seneng, sama siapa pun ga peduli.

Sama sekali bukan diri gue kalo gue rela ngelepasin kebahagiaan gue bersama temen-temen akrab gue untuk sekadar pengakuan dimata orang-orang eksis tersebut dengan menyamar menggunakan topeng seribu sifat agar kedok asli ga keliatan. Kalo emang ada orang kayak gini, mungkin aja dia bakal ngelewatin masa SMA nya dengan memendam sifat aslinya dan kebahagiaan yang ga bisa dia dapatkan bersama temen sejatinya demi sebuah pengakuan eksis semata.

Yaah, emang ribet tapi ya hidup itu pilihan kan? Sama aja kayak kalo mau naik kelas. Jadi gimana kehidupan Kelas 2 SMA lo?

This is My Art Work

Beda dengan yang lain, gue membuat blog ini bukan hanya untuk nginget-nginget kejadian yang udah gue lewatin aja, tapi gue juga nulis semua yang ada di otak gue untuk bahan diskusi, pelajaran hidup, dan juga semua yang gue rasain.

Nama gue Bagus. Walaupun, kalimat ini bermakna ambigu maksudnya nama gue adalah Bagus (bukan kata sifat) dengan kepanjangan Bagus Joko Puruitomo. Biasanya temen-temen menaggil gue Jok ato Bajok. Emang sangat identik ya nama Bagus dengan Joko. Puruitomo pun jarang yang inget. Tapi gue kasih satu bocoran, Bagus Joko ga bakal ada tanpa Puruitomo. Mereka punya arti yang satu dan ga bisa berdiri sendiri.

Hobi gue musik (khususnya piano) dan nyanyi mungkin. Tapi gambar nampaknya menjadi hobi baru walaupun temen-temen blom ada yang mengakui bakat gambar gue. Hahahaha. Satu lagi hobi yang blom pernah gue salurkan, yaitu nulis. Hanya sedikit orang yang tau ini. Mungkin Cuma orang tua gue, dan gue mau ngebuktiin itu dengan membuat karya besar ini, because ‘This is my Art Work’.

Humble

You've succeeded once, or maybe several times. You remember that taste of winning, the pleasure of being superior. People knew you for y...