November 16, 2010

Target dan Hasil

Kita semua tau apa itu target, dalam pelatihan motivasi manapun pasti seseorang akan disuruh untuk membuat target untuk mengontrol pencapaian seseorang, sesuai dengan kemampuan dan tingkat kepuasan yang dicapai oleh orang tersebut. Kebanyakan orang, ya, bagi kebanyakan orang mempunyai target adalah suatu hal yang sangat penting, mereka biasanya mencatat target-target untuk periode tertentu dalam sebuah kertas atau buku pribadi. Tentu saja gaya (F) dan usaha (W) yang dilakukan oleh setiap orang pasti berbeda dalam mencapai target-target tersebut, dan semua itu membutuhkan waktu (s) dalam prosesnya, sehingga didapat rumus fisika yaitu
W = F . s yaitu usaha merupakan gaya dikali waktu
Tapi tanpa menyinggung para ilmuwan pengguna rumus ini, saya tidak akan membahas ini di artikel ini, ataupun dalam kehidupan akademik saya.
Target, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya biasanya ditulis seseorang, namun bagaimana kalau seseorang itu tidak cocok dengan metode penulisan? Saya mempunyai pengalaman tentang hal ini, pada saat saya kelas 3 SMA, seperti anak kelas 3 SMA pada umumnya, saya menetapkan beberapa target yang ingin saya capai dalam periode 1 tahun sampai kelulusan, yaitu tahun 2009 - 2010. Karena kejadian ini sudah lewat jadi mungkin tidak apa beberapa dari target itu saya tuliskan di disket otak ini:
1. Berhasil diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan Ilmu Ekonomi
2. Mendapatkan peringkat 10 besar di YPM dalam kenaikan ke PK 3
3. Maju ke atas panggung pada saat wisuda karena prestasi
4. Try Out BTA 8 yang terakhir akan masuk ke 20 besar
5. Mendapatkan nilai yang memuaskan dalam Ujian Nasional
6. Jingle Dare 3 berada di puncak prestasi, London
Dari 6 target yang ingin saya capai, tebak ada berapa yang benar-benar berhasil?
Jawabannya adalah 1 target, yaitu saya mendapatkan peringkat ke-10 di YPM dalam kenaikan ke PK 3, dan itu pun sangat nyaris, hanya berbeda 0,25 dari peringkat ke-11, dan karena saya berhasil untuk yang satu ini, saya mentraktir teman saya Afiffa Mardhotillah di sederhana dekat sekolah untuk makan sepuasnya. Lalu bagaimana dengan yang lainnya? Tetot, saya tidak mencapainya, atau tidak benar-benar mencapainya.
Saya jelas tidak diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan Ilmu Ekonomi. Saya diterima ditempat lain, yaitu Fakultas Hukum Universitas Indonesia jurusan Ilmu Hukum. Hal yang telah saya impikan selama 1 tahun terakhir langsung musnah setelah membaca pengumuman simak ui di kompas pada waktu itu.
Pada waktu wisuda ternyata saya maju ke atas panggung, namun sebagai wisudawan bukan sebagai siswa berprestasi yang mendapatkan penghargaan.
Try Out BTA 8 yang terakhir, saya mendapatkan peringkat 35 dan bukan 20 besar. Sedangkan teman saya ada yang mendapatkan peringkat 4 dan membuat saya cukup terkejut pada waktu itu, bukan karena teman saya yang mendapat peringkat tinggi, namun karena peringkat saya yang masih jauh dari target yang telah saya tetapkan.
Mendapatkan nilai yang memuaskan dalam ujian nasional. Sebenarnya saya tidak mendapat nilai yang buruk, cukup baik dengan rata-rata yang sebenarnya memuaskan. Namun, karena memuaskan adalah sebuah hal yang relatif, jadi saya memutuskan untuk membatalkan target ini. Sebuah pelajaran juga untuk pembuat target, dalam pembuatan target terdapat syarat mutlak yaitu TARGET HARUS JELAS.
Untuk target yang terakhir, sedikit konyol, saya menuliskan ini di buku agenda saya sehari sebelum penampilan semifinal kami. Dan ternyata hasilnya pun tidak seperti yang saya tulis. Kami, yaitu Lamuru, mendapatkan juara 5 pada saat semifinal se-Jabodetabek. Yang berhak masuk final adalah yang juara satu, dan juara 1 final akan terbang ke London dan mendapatkan gelar sebagai Juara Indonmie Jingle Dare 3. Sebenarnya kami mencapai puncak prestasi seperti yang saya tulis, yaitu juara 5 di semifinal. Namun kami jelas belum pergi ke London sebagai Juara di final. Dan untuk membohongi diri saya sendiri, saya mencoret kata-kata ‘London’ dalam daftar target saya sehingga seakan-akan target tersebut tercapai, dan sebenarnya itu menjadi target yang relatif dan tidak jelas seperti nilai UAN, sama saja. (Untuk tau cerita lengkap tentang petualangan Indomie Jingle Dare 3 bisa baca di disket otak sebelumnya, cerita yang seru lho, seperti cerpen-cerpen di kompas)
Yah begitulah kisah target saya. Tapi, apa inti dari cerita tersebut? Saya menyimpulkan:
Memang terdengar aneh, tapi karena kejadian ini saya jadi berpikir untuk tidak menetapkan target dengan menulisnya diatas kertas. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan saya tidak berhasil mencapai target tersebut, apakah karena saya tidak konsisten dalam pencapaian target, ataukah target itu seharusnya hanya kita yang tahu dan tidak boleh dilihat orang lain? (karena waktu itu sempat dilihat oleh teman) dan nampaknya saya merupakan perwujudan dari manusia yang seperti kata orang “just go with the flow” karena saya enjoy menjalani hidup saya, puas dengan apa yang saya bisa capai, namun tetap tidak pasrah apabila saya sedang jatuh dan berusaha untuk selalu bangkit lagi. Jika dari 6 target yang tercapai hanya satu, dengan kenyarisan pula, apakah artinya itu? Mungkin, target bagi orang seperti saya tidak butuh ditulis dalam lembaran kertas, namun seperti buku yang terkenal dan mungkin sudah pernah kita baca, saya hanya perlu menaruhnya 5cm didepan mata saya, sebuah visi dan misi yang terangkai dalam sebuah usaha dalam pencapaian target-target tertentu. Cukup dengan menaruhnya 5 cm didepan mata saya, agar dapat selalu saya lihat dengan jelas dan saya ingat, dan menjadikannya sebagai motivator terbesar dalam mencapainya.
Dari ketidakberhasilan saya dalam mencapai target-target yang telah saya tulis, saya belajar juga mengenai hal yang menurut saya sangat penting, sangat teramat penting, yaitu belajar ikhlas. Sehari sebelum pengumuman simak ui, saya masih berdoa pada saat solat isya, doa yang memohon agar saya diterima di jurusan ilmu ekonomi, doa yang tulus dan benar-benar memohon dan berharap pada Allah SWT. Namun, di pagi hari yang indah, ternyata saya tidak diterima di jurusan tersebut. Saya diberikan jurusan yang lebih baik dari ilmu ekonomi, yaitu ilmu hukum. Saya diberikan oleh Allah SWT dan saya yakin itu yang terbaik, meskipun tidak sama dengan apa yang telah menjadi target saya selama ini. Perubahan itu sangat singkat, hanya dalam beberapa jam saja saya langsung merubah pandangan saya dari ekonomi ke hukum. Apakah saya sedih waktu itu? Entah mengapa, tidak. Mungkin tipe “just go with the flow” juga mempengaruhi tingkat kesedihan yang saya alami, namun pada saat itu, saya hanya tersenyum dan berkata alhamdulillah karena saya telah berhasil diterima di Universitas Indonesia Fakultas Hukum jurusan Ilmu Hukum, dan alhamdulillah hal tersebut juga membuat orang tua, nenek, saudara saya tersenyum, jadi untuk apa saya bersedih? Begitu juga dengan hal yang lainnya, tidak menjadi 20 besar, tidak maju ke panggung, tidak jadi ke London, dan tidak jadi-tidak jadi lainnya, tidak membuat saya sedih karena ada satu sifat yang membuat seseorang selalu tersenyum dalam keadaan apapun, yaitu ikhlas. Seperti yang eyang saya tanyakan pada bulan Ramadhan yang lalu kepada salah satu ustadzah pengajian ibu-ibu:
Eyang: Bu ustadzah, amalan apa yang paling besar di bulan Ramadham?
Bu Ustadzah: Berpikir positif kepada Allah SWT
Dari sini kita tahu, memang berat sekali untuk melakukan ini, namun jika sudah bisa maka wajah Anda akan sangat jarang terlihat cemberut. Senyuman akan senantiasa bermunculan semerbak di wajah dan perasaan bahagia meliputi atmosfir disekitar Anda. Sifat-sifat yang sangat mulia menurut saya, menjadikan seseorang berhati putih, tidak berusaha melihat sisi buruk dari sesuatu kejadian atau bahkan seseorang, namun hanya mencari dimana positif, dimana positif, DIMANA POSITIF, dari apapun yang ada disekitar kita, dan asal tahu saja, hidup bukan main akan terasa indahnya jika kita bisa bersikap dan berideologi seperti ini.
Terakhir, pikirkan target yang tepat untuk Anda, konsisten dan disiplinlah dalam mencapai target tersebut, tentukan metode dalam menulis target Anda, dan apapun hasil dari target Anda, tersenyumlah, ikhlas, dan berpikir positiflah pada Allah SWT atas apapun yang telah Tuhan berikan kepada kita.
Hanya di Disket Otak,
Bagus Joko Puruitomo

No comments:

Post a Comment

Humble

You've succeeded once, or maybe several times. You remember that taste of winning, the pleasure of being superior. People knew you for y...