December 10, 2010

Curhat

Baru saja saya melihat foto yang ada di facebook saudara sepupu saya, dimana pikiran saya langsung terbuka lebar. Kehidupannya sangat menyenangkan, belajar di luar negeri, tinggal mandiri dan mengatur apa-apa sendiri, dengan jurusan yang sangat diminati dan bakat yang luar biasa. Sekali saya melihat, saya langsung iri. Kehidupannya terasa sangat indah, belajar sesuai minat, berteman, berpetualang, menghirup udara segar setiap hari, tidak ada peraturan yang mengikat dan mengatur, bebas seperti angin kemana saja bertiup. Perbedaan kehidupan bisa sangat terjadi jelas dalam waktu yang relatif singkat. Kehidupan saya sekarang sangat berbeda dengan kehidupan saya beberapa bulan yang lalu. Kegiatan yang memaksa saya menempuh jarak berkilo-kilo meter sehari dari bintaro-depok-manggarai dengan kemacetan Jakarta yang sangat subur. Jika ditanya apakah itu melelahkan, saya tidak dapat berbohong. Rasanya tidak terlalu santai memang, terutama dalam pembagian menempuh perjalanan yang cukup menghabiskan waktu, lalu berkurangnya waktu untuk istirahat dan santai. SANTAI! Benar-benar harus mengatur waktu, bahkan suatu hari pernah saya menargetkan waktu makan, mandi, solat, belajar, latihan piano, dan berbagai macam hal lainnya dalam waktu yang sangat sempit. Hal ini kadang membuat lelah fisik, tetapi terutama lelah secara mental. Melakukan aktivitas sebanyak itu dalam waktu tertentu amat menguras tenaga. Belum lagi kalau hari libur ada kegiatan seperti lamuru dan lain-lain yang terkadang membuat waktu istirahat kembali berkurang. Bahkan beberapa saat yang lalu, saya mengalami sakit kuning, karena kelelahan yang juga cukup menyita waktu saya. Namun, apakah semua kegiatan itu menyenangkan? Tentu saja, saya melakukan apa yang saya suka. Saya belajar ilmu hukum, dimana saya tidak lagi menyentuh ilmu IPA yang sangat memeras otak sepenuhnya. Ilmu yang dapat bermanfaat bagi orang banyak jika dilaksanakan dengan kaedah yang seharusnya. Saya belajar piano klasik, selama hampir 12 tahun dengan semangat yang naik turun namun kecintaan yang selalu meningkat setiap saatnya. Saya menghabiskan waktu untuk berlatih sangat banyak jika dikalkulasikan dari awal pertama saya belajar musik. Saya melakukan kegiatan lamuru dengan skill yang terus berkembang, dengan kecintaan terhadap musik yang saya mainkan dan teman-teman terbaik yang saya kenal. Dan saya menjalani semua dengan hati yang gembira, walaupun mental kadang lelah akibat banyak sekali yang harus dikerjakan. It's okay! Apa yang saya dapatkan sesuai bahkan lebih dari apa yang saya usahakan. Jadi, kesimpulan sotoy nya adalah, kehidupan bisa dinikmati oleh manusia bukan tergantung dari volume kegiatan yang dilakukan tersebut, namun tergantung dari seberapa kita ikhlas dan cinta dalam menjalankan semua itu. Lagi pula, kita tidak sendirian, di setiap kegiatan yang saya lakukan, saya bersama teman-teman yang akan selalu ada di setiap kegiatan tersebut, termasuk di rumah atau di apartemen, saya punya keluarga. Bukan masalah kita tinggal di luar negeri, kosan, di rumah, atau dimanapun, tapi itu tergantung dari kecintaan kita terhadap apa yang kita lakukan. Jadi, berbahagialah orang yang senang dengan apa yang ia lakukan!

No comments:

Post a Comment

Humble

You've succeeded once, or maybe several times. You remember that taste of winning, the pleasure of being superior. People knew you for y...