Showing posts with label Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Thoughts. Show all posts

May 31, 2020

Humble

You've succeeded once, or maybe several times. You remember that taste of winning, the pleasure of being superior. People knew you for your glorious achievement. And at that moment, you felt life wasn't bad at all. You were ready to face all upcoming challenges.

And life continues. You're not always at the top. You'll find another chapter of life where you feel so insecure about yourself. You'll be at a point where you don't have enough confidence to embrace all things in life. You'll have doubt on yourself and start comparing yourself to other people. You're not the previous version of yourself anymore.

And i think that's okay. It's not that good if you always win. Insecurity somehow could humble us. It  reminds us how tiny we are in this giant universe. The amount of knowledge and experience we have are so little, thus we are not yet (or might never be) sufficiently eligible to say that we are a successful person. Be humble. Again. Be humble. And you will finally rise up again.

April 25, 2019

Unlimited Reasons to Love You

I love the way you introduce yourself to a new stranger
I love the way you talk, with all your passion and excitement
I love your appearance and how you present your self
I love how smart you are at making analysis
I love the way you treat people around you, especially your family
I love how much you care about people
I love how selfless you are
I love how you handle stressful situations
I love how calm you can be when I'm being panic
I love the fact you don't show our private life in social media, especially the romantic stuff
I love how you always challenge my ideas to make me better
I love the discussion we have for making decisions
I love the way you raise our kid, or children maybe in the next few years
I love ....
I love ....
I love ....
(the list goes on)

Some people said that love should not need any reason at all
But I think I have unlimited reasons to love you more and more

April 18, 2019

Do We Really Need Long Term Dreams?

A question that always hang in my mind: do we really need long term dreams?
Ever since we were little, lots of influential people taught us to dream big. To really chase our dream. To give our best effort to make our dreams come true.

I vividly remember when I was younger, I forced myself to have a dream. I set my goals and transformed them into a plan and concrete actions. But i also realized that those weren’t my genuine dreams. I only set them because of society dictates everyone to dream big. When those dreams i had previously set did not came true, i was actually totally okay with it. More than okay, I was grateful.

Then I started to think again: do we really need long term dreams?
Well in that case, I finally pictured myself as a go-with-the-flow person. It is okay to not have long term dreams. It is okay to not have a long list of plans to make our dreams we set come true. It is okay to not be able to see a version of yourself in the next 10 years. It is okay to not follow society’s standards and simply just do what feels right. It is okay to be our self in our very own way.

For the record, I'm not saying that it is okay to not have a concrete plan when we already know what we want (or need) to achieve. For example, when we know that we want to survive in life, to be able to invest our idle money, or to support the needs of our family, then we must definitely have a concrete financial plan. But if being the president of our country or being a billionaire in the age of 35 is not what we want, then i think it's okay to not plan to be one.

But the thing that I have to emphasize in the regards of the concept of "not having a long term dreams" is: responsibility. Career path we have, the person we ended up with, the amount of friends we keep, the titles we chase, the house we bought, or even just the color of the shirt for today's work, and basically every single thing in our life must come along with responsibility. I also believe that each and everything is already destined for us, so whatever we choose, as long as we're being responsible, we're going to be fine. (I realized what I wrote sounds very optimistic, but I believe it's true).

This is my thought as per today but I'm still open to new perspectives. Maybe I'll learn something afterwards and I'm excited about it.

Cheers!

December 19, 2018

Hidup

Roda itu berputar
Hidup itu harus sabar

Jikalau masih di bawah
Jangan cepat menyerah

Jikalau belum nampak
Jangan berhenti bergerak

Jikalau terhalang bersinar
Jangan terlalu gentar

Karena roda itu berputar
Hidup itu harus sabar

October 28, 2018

Ilmu Hukum merupakan Ilmu yang Sederhana

Saat S1 dahulu, saya mengambil jurusan hukum sebagai pilihan nomor 2. Keinginan untuk masuk jurusan ilmu ekonomi kandas saat pengumuman SIMAK UI pada tahun 2010 dulu. Tanpa ada rasa penyesalan karena gagal diterima di jurusan ilmu ekonomi, petualangan untuk belajar ilmu hukum pun saya mulai.

Empat tahun belajar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, saya pun lulus pada tahun 2014. Saya melanjutkan petualangan saya saat bekerja di Otoritas Jasa Keuangan sejak tahun 2015. Dan disana saya baru menemukan satu hal yang sangat menarik.

Disini saya belajar ilmu yang spesifik mengenai lembaga jasa keuangan, berkaitan dengan seluruh aspek ekonomi, kesehatan dari suatu lembaga jasa keuangan, pos-pos di neraca laporan keuangan, aspek prudensial, dan hal-hal tabu lainnya bagi seorang sarjana hukum. Tugas utama saya adalah menyusun ketentuan yang berlaku bagi industri, sebagai seorang regulator.

Pertanyaan berikutnya: apakah ilmu hukum saya terpakai? Tentu. Saya dapat menganalisis segala hal yang saya pelajari dari aspek hukum, dengan menggunakan logika. Tapi apakah terdapat kesamaan dari apa yang saya kerjakan dengan kuliah yang saya jalani dulu? Tidak. Sama sekali tidak. Saya mempelajari suatu hal yang baru. Suatu hal yang bersifat teknis, berkaitan dengan aspek mikroprudensial (yang saya baru dengar istilahnya setelah memulai pekerjaan ini). Apakah sulit? Hal tersebut dapat dimengerti (akhirnya). Namun bagi seorang sarjana hukum yang tidak pernah mempelajarinya sama sekali di bangku kuliah, bagi saya hal tersebut merupakan tantangan tersendiri.

Hampir empat tahun saya bekerja di sini sekarang, dan saya mulai berkenalan dengan cabang ilmu lain, seperti ekonomi, metematika, statistik, dan lainnya. Bagi saya semua terasa "menantang", bukan "nyaman" sebagaimana saya belajar hukum dulu. Dari situ lah saya mendapatkan kesimpulan.

Ternyata ilmu hukum merupakan ilmu yang sederhana. Tidak serumit ilmu-ilmu lainnya. Konsep hukum dapat dimengerti siapapun tanpa harus kuliah di jurusan ilmu hukum. Semua berita di media pasti berkaitan dengan hukum yang berlaku di masyarakat. Semua lapisan di negara ini menggunakan hukum sebagai "tools" dalam menjalankan fungsi masing-masing. Di jurusan hukum, kita tidak belajar mengenai model, integral, pola distribusi, rumus kecukupan modal, kualitas aset, laba rugi, pencadangan yang harus dibentuk secara matematis, inflasi, dan segala hal lainnya. Tidak pula ada komposisi zat-zat kimia, kandungan batuan, atau rata permukaan tanah. Compared to what we learned in law school, menurut saya pribadi hal-hal di luar sana itu bisa jadi jauh lebih memusingkan.

The only one reason I think why law is something big in our society, is because it has the biggest impact among all other things. Seseorang dapat dianggap benar atau salah berdasarkan apa yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan. Seseorang dapat untung atau rugi besar berdasarkan transaksi yang didasari atas perjanjian tertulis. Hak dan kewajiban seseorang akan terjamin hanya apabila ada perlindungan hukum. Berjalannya seluruh sistem dalam negara ini hanya dapat dijalankan apabila sudah ada peraturan perundang-undangan yang mengatur. Terutama Indonesia yang merupakan negara hukum berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945. Jadi memang, sebagai sarjana hukum, kita dilarang keras untuk "sotoy" dan sembrono dalam mengambil keputusan serta mengusulkan sesuatu. Pandangan orang-orang ke sarjana hukum akan selalu berbeda. Opini kita akan menjadi penentu utama dalam pengambilan kebijakan di berbagai instansi masyarakat.

Jadi, berbahagialah kita yang kuliah di jurusan hukum. Tidak perlu terlalu lelah belajar, praktikum, berhitung hingga kesemutan, menghafal seluruh nama tulang syaraf dan lain-lain. Kita cukup pahami the big picture of our law system in this country, dan mengaplikasikan pola pikir yang sudah kita dapatkan di kuliah saat bekerja di dunia nyata. Remember that we have the key, better to use it wisely.

June 07, 2018

More Valuable

We have been taught a lot about giving charity (if you are moslem you would know the 2,5% formula, our income every months that should be allocated to someone in need). And by charity i meant money.

My Dad recently just taught me something similar, but so much more interesting. A social charity, not by giving money but giving something more intangible such as time, energy, effort, ideas, and so on. Something that most people avoid. They are actually being more rational because social charity would actually consume our resource much more than giving money.

Exhibit A:
A family member who has willingness to be the coordinator of family gathering, he has lots on his plate but takes it anyway. That is social charity.

Exhibit B:
An lower level employee who thinks effortly to find a solution in the middle of meeting, where he could actually sit and stay silent waiting until the end of session. That is social charity.

Exhibit C:
A daughter who drives a car to take her mother out of city just to make sure everything is fine and her mother is safe and sound. That is social charity.

Exhibit D:
A guy who who concentrate to listen to his other friend’s problem and be emphatic although he really want to go home and read his book. That is social charity.

Conclusion:
Giving money as a charity is great, but i believe that giving those above mentioned intangible things are way more valuable.

May 25, 2018

Something Real

Having a blog turns out good. It feels like having an album of your thought through life phases. I'm now 25 (still young) and what I mostly think right now is not all those deep/philosophical/inspiring things.

I'd now rather think about how I lead my little family, how to pay all my liabilities, how to make sustainable system in our apartment with my wife, how to understand all the must-learn stuff in office, and so on.

It is not a transformation into a robotic human, it is just something real a man have to deal with. We all will get there at some point.

I wonder what I would mostly think 5 years from now.

July 23, 2015

Good Things In A Day

Good thing we only have 24 hours a day. More hours equal more obligations yet not necessarily equal more results. Another good thing is a day will always ends at midnight. The longest "bad day" a person could have would only last until 23.59, because a minute afterward would be a brand new day.

May 31, 2015

A Visionary Goal

Having them as my role models is one of the best gift from God. Due to them, I now realize that my next goal is not to be excellent at my job, because being excellent is not a goal, it is an obligation. My next goal is to be brave enough to take responsibility not only for me, but for other person as well, a special someone in particular. Looking forward to meeting this woman.

P.S. I know many of my posts are not clearly telling something. It is because the objective of making this blog is not for the readers, it is for my personal note to remember certain things. Enjoy!

November 24, 2014

Commitment

I choose not to think too much. Be spontaneous and feel excited for little things.

September 02, 2014

Mau Hidup Seperti Apa?

Jika Disket Otak ini merupakan salah satu wadah agar saya bisa menuangkan pemikiran saya, berarti saya harus melakukannya untuk satu hal ini.

Buat apa sih seseorang hidup di dunia ini?

Kalau menjawab pakai ilmu agama islam yang saya anut dan saya percaya kebenarannya, jawabannya akan menjadi seperti ini.

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)

Lalu  pertanyaan berikutnya.

Hidup seperti apa yang kamu ingin jalani?

Kita tidak selamanya hidup di dunia. Sekaya apapun, sepopuler apapun, bahkan sebaik apapun kita di dunia ini, suatu saat kita akan wafat dan kembali ke Tuhan. Fokus terhadap diri sendiri di dunia ini bukanlah hal yang buruk, namun saya rasa seseorang akan lebih bahagia di dunia jika orang lain juga menjadi variabel yang diperhatikan.

Saya hanya ingin bisa bermanfaat untuk orang lain untuk apapun yang saya lakukan agar bisa lebih bahagia di dunia, dan di akhirat nantinya.

April 13, 2014

Definitely Different

Jika saya boleh memberikan saran, maka saran itu akan berupa himbauan untuk berhati-hati mendefinisikan bahwa Anda jatuh cinta. Karena cinta dan sayang itu berbeda. Ber-be-da. Dan menjalani hubungan spesial dengan seseorang tidak cukup hanya dengan rasa sayang. Sekian

December 30, 2013

Hanya Butuh Orang Lain

Saat semua orang di sekitar kita menjadi orang yang luar biasa hebat, berbahagialah. Namun, itu bukan alasan untuk menganggap diri sendiri menjadi rendah. Setiap orang memang memiliki perbedaan, itulah yang menyebabkan hidup ini menjadi indah.


Namun terkadang, seseorang hanya butuh orang lain untuk dapat memberikan keyakinan lebih mengenai hal ini.

September 25, 2013

Jatuh Cinta

Mugkin ini rasanya jatuh cinta. Memikirkannya setiap saat. Tidak keberatan melakukan hal yang diluar batas kewajaran. Menjadi prioritas paling atas. Indah saat bersama. Rindu saat berpisah.

Kemarin saya membaca sebuah ramalan harian untuk diri saya (bukan suatu hal yang penting, namun kebetulan ditunjukkan oleh seseorang) yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia pada intinya berarti:

"Sekarang adalah saat paling bahagia bagimu saat kamu sedang memberikan kontribusi terbesarmu."

Pengabdian yang saya lakukan saat ini adalah bentuk cinta murni yang saya rasakan. Tidak ada keraguan. Terima kasih Tuhan, karena telah memberikan rasa cinta pada suatu hal yang saya lakukan. Mungkin saya terdengar gila, namun bukankah orang yang jatuh cinta memang mengenyampingkan logika?

Jika boleh sedikit mengutip dari blog teman saya (yang bernama Anggie Wiyani), beliau pernah menulis:

"Do what you love, and love what you do. To do what you love is freedom, and to love what you do is happiness."

August 06, 2013

Falling in Love and Being in a Relationship

Semua hal ini ada di otak dan hati saya. Namun saya belum berani menuliskannya di blog ini. Tahu apa saya soal "falling in love" dan "being in a relationship". Saya masih anak bawang.

July 15, 2013

Precautionary Principle

Tidak terasa sudah setengah periode kepengurusan sebagai Director ALSA LC UI telah terlewati. Sedih saat menyadari betapa cepatnya waktu berlalu. Namun, sebagai manusia modern, saya sudah harus menyiapkan diri untuk "move on" saat tidak lagi menjabat dan berkecimpung dalam kehidupan karir organisasi ini. Cinta saya terhadap ALSA akan terus ada. Sehingga, yang perlu saya lakukan adalah pengabdian total selama setengah periode kepengurusan lagi dan mempersiapkan bibit-bibit baru yang hendak menggantikan kami, kami yang hendak melangkah maju ke fase kehidupan berikutnya.

June 20, 2013

Brain and/or Heart

Bertahun-tahun saya terdoktrin bahwa otak adalah segalanya, yang menentukan. Benar memang, bisa seperti itu. Namun apakah itu tepat? Belum tentu. Di usia saya yang ke-20 ini, saya baru menyadari bahwa hati juga perlu diseimbangkan dengan otak. 

"Think with your brain, but let your heart decide"

Kira-kira seperti itu rangkuman antara hati dan otak. Blog ini nampaknya sudah sangat kental dengan Disket Otak-nya. Tidak akan saya ganti, mungkin itu sudah menjadi semacam cap untuk saya. Namun, akan saya tambahkan sedikit formula agar otak dan hati bisa menjadi pasangan yang tidak saling mendominasi, namun menjadi saling menyokong, mensupport, dan menunjang satu sama lain untuk menjadi lebih baik.

May 13, 2013

Teori

Penting kah? Pasti. Terlalu banyak? Tidak akan baik juga. Bahkan bisa memuakkan. Konkrit itu diperlukan. Atau semua hanya akan menjadi angan belaka.

April 01, 2013

Pesan yang Berharga

Baru saja saya melihat adanya surat yang dikirim dari Jepang via pos, dari teman Ayah saya untuk Ayah saya. Sungguh lucu. Andaikan sampai sekarang kita masih menggunakan surat dan pos untuk mengirimkan pesan, pasti sebuah pesan akan menjadi sangat berharga untuk dikenang.

January 07, 2013

20 Tahun

Detik paling mendebarkan di tahun 2012. Dan amanah besar di tahun 2013.

Humble

You've succeeded once, or maybe several times. You remember that taste of winning, the pleasure of being superior. People knew you for y...