Sudah jelas nampaknya peranan pemimpin di mana pun dalam situasi apa pun. Kita sebagai manusia memang diciptakan Allah SWT sebagai pemimpin atau khalifah di muka bumi ini. Pemimpin merupakan tugas mulia dan terhormat, namun penuh tanggung jawab. Tugasnya yaitu memimpin anggota dalam suatu kumpulan entah itu Negara, organisasi, keluarga, maupun diri sendiri.
Pemimpin yang berakhlak mulia merupakan kriteria untuk menjadi pemimpin yang baik. Keputusan yang diambil sang pemimpin harus dilihat dari berbagai macam aspek. Dengan dasar iman, ilmu, dan amal yang kuat, lebih kecil kemungkinan bagi pemimpin untuk mengambil keputusan yang salah.
Diperlukan kordinasi yang sangat lancar antara pemimpin dan anak buahnya. Apa jadinya kalau tidak ada kerjasama antara pemimpin dan anak buah? Tugas pemimpin memang mengatur serta membagi tugas anak buahnya sehingga masing-masing individu yang dipimpin tidak kehilangan jejak dalam pencapaian tujuan. Pemimpin harus mengenal anak buahnya sehingga dapat membagi tugas sesuai dengan kemampuan si anak buah. Dengan sikap ini, tujuan yang sulit pun pasti akan dapat berjalan dengan lancar selama ada kordinasi yang baik antara pemimpin dan anggotanya.
Pemimpin yang berakhlak mulia merupakan kriteria untuk menjadi pemimpin yang baik. Keputusan yang diambil sang pemimpin harus dilihat dari berbagai macam aspek. Dengan dasar iman, ilmu, dan amal yang kuat, lebih kecil kemungkinan bagi pemimpin untuk mengambil keputusan yang salah.
Diperlukan kordinasi yang sangat lancar antara pemimpin dan anak buahnya. Apa jadinya kalau tidak ada kerjasama antara pemimpin dan anak buah? Tugas pemimpin memang mengatur serta membagi tugas anak buahnya sehingga masing-masing individu yang dipimpin tidak kehilangan jejak dalam pencapaian tujuan. Pemimpin harus mengenal anak buahnya sehingga dapat membagi tugas sesuai dengan kemampuan si anak buah. Dengan sikap ini, tujuan yang sulit pun pasti akan dapat berjalan dengan lancar selama ada kordinasi yang baik antara pemimpin dan anggotanya.
Ulet, peka, cermat, cepat, dan cekatan juga merupakan hal yang dibutuhkan pemimpin. Kemampuan untuk mengetahui kondisi sekitar serta peka terhadap lingkungan, tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat keadaan menjadi lebih baik, dan tidak meremehkan orang lain. Kalau hanya duduk dan menunggu hasil kerja anak buah, itu tidak bisa disebut sebagai pemimpin yang benar walaupun ia pintar membagi tugas untuk anak buahnya. Terkadang pemimpin pun harus turun tangan untuk menyelesaikan suatu masalah kelompok.
Siapa orang yang dapat memgang kuasa untuk mengambil keputusan bagi kepentingan perkumpulan? Ya, pemimpinlah jawabannya. Pemimpin harus berani dan tegas dalam mengambil keputusan. Pengambilan keputusan pastilah juga dilandasi berbagai aspek sehingga kita harus siap memikirkan bagaiamana caranya mengambil keputusan dengan cepat, tepat, dan terbaik bagi semua pihak. Memang tidak selalu keputusan yang kita ambil benar, namun dengan kesalahan tersebut, kepemimpinan akan semakin terbentuk dan pengalaman pun mengajari kita sesuatu menjadi pemimpin yang lebih bijaksana.
Kepercayaan anggota timbul dari sikap sang pemimpin tersebut. Siapa yang mau percaya dengan pemimpin yang suka berbohong? Tidak ada orang yang sering berdusta dapat menjadi pemimpin yang baik. Tidaklah benar membohongi diri sendiri dalam soal kemampuan dan tidak benar pula pemimpin membohongi orang lain hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi semata.
Nasib individu, keluarga, organisasi, Negara, bahkan dunia ditentukan oleh pemimpin masing-masing. Keberhasilan dari tujuan-tujuan yang amat banyak bergantung pada sikap sang pemimpin. Tapi sikap-sikap itu saja tidak cukup untuk mencapai kata “sukses” bagi sang pemimpin. Apa jadinya kalau pemimpin yang berani, dapat mengambil keputusan dengan cepat, dan selalu kordinasi dengan anggota anak buah, tapi dengan tujuan mengkorupsi harta negara? Apa gunanya pemimpin yang cerdik, ulet, bisa membagi tugas anak buahnya, namun hanya demi berbuat kotor di dunia politik untuk keuntungan pribadi?
Omong kosong jika semua hal tersebut hanya demi tujuan yang kurang mulia. Kalau pemimpin melakukan kesalahan, hendaknya para anggotanya mengingatkan dan sang pemimpin pun harus mau mendengarkan apa yang disampaikan oleh anak buahnya. Itulah bagaimana seharusnya prosedur kepemimpinan berjalan. Agar tidak ada tujuan kurang mulia dalam hati seorang pemimpin dan seluruh organisasinya, dibutuhkan pemimpin yang jujur. Ya, inilah aspek yang paling penting dan menentukan bagi seorang pemimpin, kejujuran.
(masih dari facebook)
Siapa orang yang dapat memgang kuasa untuk mengambil keputusan bagi kepentingan perkumpulan? Ya, pemimpinlah jawabannya. Pemimpin harus berani dan tegas dalam mengambil keputusan. Pengambilan keputusan pastilah juga dilandasi berbagai aspek sehingga kita harus siap memikirkan bagaiamana caranya mengambil keputusan dengan cepat, tepat, dan terbaik bagi semua pihak. Memang tidak selalu keputusan yang kita ambil benar, namun dengan kesalahan tersebut, kepemimpinan akan semakin terbentuk dan pengalaman pun mengajari kita sesuatu menjadi pemimpin yang lebih bijaksana.
Kepercayaan anggota timbul dari sikap sang pemimpin tersebut. Siapa yang mau percaya dengan pemimpin yang suka berbohong? Tidak ada orang yang sering berdusta dapat menjadi pemimpin yang baik. Tidaklah benar membohongi diri sendiri dalam soal kemampuan dan tidak benar pula pemimpin membohongi orang lain hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi semata.
Nasib individu, keluarga, organisasi, Negara, bahkan dunia ditentukan oleh pemimpin masing-masing. Keberhasilan dari tujuan-tujuan yang amat banyak bergantung pada sikap sang pemimpin. Tapi sikap-sikap itu saja tidak cukup untuk mencapai kata “sukses” bagi sang pemimpin. Apa jadinya kalau pemimpin yang berani, dapat mengambil keputusan dengan cepat, dan selalu kordinasi dengan anggota anak buah, tapi dengan tujuan mengkorupsi harta negara? Apa gunanya pemimpin yang cerdik, ulet, bisa membagi tugas anak buahnya, namun hanya demi berbuat kotor di dunia politik untuk keuntungan pribadi?
Omong kosong jika semua hal tersebut hanya demi tujuan yang kurang mulia. Kalau pemimpin melakukan kesalahan, hendaknya para anggotanya mengingatkan dan sang pemimpin pun harus mau mendengarkan apa yang disampaikan oleh anak buahnya. Itulah bagaimana seharusnya prosedur kepemimpinan berjalan. Agar tidak ada tujuan kurang mulia dalam hati seorang pemimpin dan seluruh organisasinya, dibutuhkan pemimpin yang jujur. Ya, inilah aspek yang paling penting dan menentukan bagi seorang pemimpin, kejujuran.
(masih dari facebook)
No comments:
Post a Comment