Di kelas siang itu, dosenku memberikan kesempatan kepada
mahasiswa untuk menjawab pertanyaan yang ia sampaikan. Semalam sebelumnya, aku
telah terlebih dahulu membaca dan menyerap isi materi dari perkuliahan siang
itu dari buku yang aku pinjam di perpustakaan minggu lalu. Aku bersyukur otakku
masih dapat bekerja sebagaimana fungsinya, jawaban dari pertanyaan dosen
tersebut telah aku ketahui dan siap aku luncurkan di tengah ruangan lebar
berkapasitas seratus orang tersebut.
Tapi ada yang mengganjal. Tanganku tidak dapat bergerak.
Tanganku tidak ingin berpindah tempat dari pangkuanku. Tangan bandel yang tidak
ingin dinaikkan ke atas agar dosen tersebut dapat melihat bahwa aku hendak
menjawab pertanyaan yang beliau ajukan. Aku bingung dengan kelakuan tanganku
sendiri yang berani membangkang.
Telah terjadi pergulatan hebat di dalam pikiranku. Sebagian
dari diriku menginginkan menjawab pertanyaan dari dosen tersebut, semata-mata
demi kepentingan akademis dan ilmu pengetahuan bagi diriku dan rekan
seperjuangan mahasiswa lainnya. Aku tahu jelas jawabannya dan aku akan dapat
menjawabnya dengan tepat. Namun, sebagian dari diriku yang lain memaksa
tanganku kaku tak berpindah agar dosen tersebut tidak menunjukku untuk menjawab
pertanyaan yang beliau berikan.
Ini adalah ...
Takut. Rasa takutlah yang membuat tanganku diam seperti
batu. Kekhawatiran berlebihan dari pikiranku sendiri saat ada sembilan puluh
sembilan pasang mata menatap diriku begitu aku mengeluarkan kata pertama dari
mulutku. Mata yang menatap menghakimi. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan,
apakah mereka menganggap aku bodoh, sok tahu, bahkan tidak tahu malu sehingga
berani menjawab pertanyaan dari dosen hanya dengan bermodalkan ilmu yang aku
miliki.
Apakah akan berakhir seperti ini?
Dalam kepelikan batinku, aku berpikir. Bagaimana jadinya
jika semua orang sepertiku. Bagaimana jika tidak ada lagi santri yang berani
menjadi ustad yang berdakwah karena takut dianggap sesat? Bagaimana jika tidak
ada lagi atlet yang berani bertanding atas nama bangsa karena takut membawa
kekalahan yang memalukan? Bagaimana jika tidak ada lagi rakyat yang berani
untuk jadi pemimpin negeri ini karena takut menerima kritikan pedas dari
rakyatnya sendiri?
Ketakutan-ketakutan itu adalah awal kehancuran, dan aku
tidak mau menjadi orang yang melakukannya.
Aku diam dan berpikir. Pergulatan batin kembali terjadi. Hingga
akhrinya, aku berhasil mengalahkan rasa takutku. Semangat itu datang. Satu semangat mengacungkan
tangan.
Otakku berhasil memberikan sinyal perintah untuk tangan kananku.
Bergerak perlahan tetapi pasti. Tinggi menjulang ke arah langit-langit kelas.
Pada siang itu, aku menjawab pertanyaan yang diajukan oleh
dosenku di dalam kelas. Aku telah melakukan perubahan.