March 14, 2014

Satu Semangat Mengacungkan Tangan

Di kelas siang itu, dosenku memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menjawab pertanyaan yang ia sampaikan. Semalam sebelumnya, aku telah terlebih dahulu membaca dan menyerap isi materi dari perkuliahan siang itu dari buku yang aku pinjam di perpustakaan minggu lalu. Aku bersyukur otakku masih dapat bekerja sebagaimana fungsinya, jawaban dari pertanyaan dosen tersebut telah aku ketahui dan siap aku luncurkan di tengah ruangan lebar berkapasitas seratus orang tersebut.

Tapi ada yang mengganjal. Tanganku tidak dapat bergerak. Tanganku tidak ingin berpindah tempat dari pangkuanku. Tangan bandel yang tidak ingin dinaikkan ke atas agar dosen tersebut dapat melihat bahwa aku hendak menjawab pertanyaan yang beliau ajukan. Aku bingung dengan kelakuan tanganku sendiri yang berani membangkang.

Telah terjadi pergulatan hebat di dalam pikiranku. Sebagian dari diriku menginginkan menjawab pertanyaan dari dosen tersebut, semata-mata demi kepentingan akademis dan ilmu pengetahuan bagi diriku dan rekan seperjuangan mahasiswa lainnya. Aku tahu jelas jawabannya dan aku akan dapat menjawabnya dengan tepat. Namun, sebagian dari diriku yang lain memaksa tanganku kaku tak berpindah agar dosen tersebut tidak menunjukku untuk menjawab pertanyaan yang beliau berikan.

Ini adalah ...

Takut. Rasa takutlah yang membuat tanganku diam seperti batu. Kekhawatiran berlebihan dari pikiranku sendiri saat ada sembilan puluh sembilan pasang mata menatap diriku begitu aku mengeluarkan kata pertama dari mulutku. Mata yang menatap menghakimi. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan, apakah mereka menganggap aku bodoh, sok tahu, bahkan tidak tahu malu sehingga berani menjawab pertanyaan dari dosen hanya dengan bermodalkan ilmu yang aku miliki.

Apakah akan berakhir seperti ini?

Dalam kepelikan batinku, aku berpikir. Bagaimana jadinya jika semua orang sepertiku. Bagaimana jika tidak ada lagi santri yang berani menjadi ustad yang berdakwah karena takut dianggap sesat? Bagaimana jika tidak ada lagi atlet yang berani bertanding atas nama bangsa karena takut membawa kekalahan yang memalukan? Bagaimana jika tidak ada lagi rakyat yang berani untuk jadi pemimpin negeri ini karena takut menerima kritikan pedas dari rakyatnya sendiri?

Ketakutan-ketakutan itu adalah awal kehancuran, dan aku tidak mau menjadi orang yang melakukannya.

Aku diam dan berpikir. Pergulatan batin kembali terjadi. Hingga akhrinya, aku berhasil mengalahkan rasa takutku. Semangat itu datang. Satu semangat mengacungkan tangan.

Otakku berhasil memberikan sinyal perintah untuk tangan kananku. Bergerak perlahan tetapi pasti. Tinggi menjulang ke arah langit-langit kelas.


Pada siang itu, aku menjawab pertanyaan yang diajukan oleh dosenku di dalam kelas. Aku telah melakukan perubahan.

March 10, 2014

Teori Albothyl

Penjelasan Singkat:
Albothyl adalah salah satu obat sariawan yang paling ampuh. Penderita sariawan dapat segera sembuh setelah menggunakan cairan ini, namun rasa perih saat penggunaan akan terasa hebat.

Pilihan Penderita:
1. Tidak menggunakan Albothyl.
2. Menggunakan Albothyl.

Pilihan Pertama:
Rasa sakit: tidak seberapa
Durasi derita: tidak menentu
Alasan: penderita sariawan terlalu takut untuk menggunakan Albothyl karena rasa perih yang ditimbulkan
Konsekuensi: sariawan tidak akan sembuh sampai waktu yang tidak bisa ditentukan

Pilihan Kedua:
Rasa sakit: sangat perih saat penggunaan
Durasi derita: hanya sampai saat setelah penderita menggunakan Albothyl
Alasan: penderita tidak kuasa menahan lamanya sariawan, lebih baik perih hebat terasa untuk terakhir kalinya dengan menghilangkan sariawan itu sendiri.
Konsekuensi: sariawan akan sembuh segera setelah perihnya Albothyl mengenai titik sariawan

Analogi:
Sariawan: masalah
Albothyl: penyelesaian masalah

Penjelasan:
Masalah yang membuat kita menderita dapat dianalogikan sebagai sariawan bagi penderitanya. Terasa menyakitkan dan akan bertahan entah sampai kapan jika tidak disembuhkan. Meskipun rasa perih yang dirasakan tidak seperih saat menggunakan cairan Albothyl, atau bisa dikatakan saat penyelesaian masalah sedang berlangsung. Penyelesaian masalah dianggap sebagai Albothyl yang dapat menyembuhkan sariawan. Mungkin akan lebih terasa menyakitkan saat penyelesaian masalah sedang dilakukan, namun rasa sakit itu akan hilang seketika setelah dilakukannya penyelesaian masalah tersebut.

Pertanyaan:
Apakah kamu lebih memilih untuk menahan rasa perih sariawan hingga waktu yang tidak bisa ditentukan, atau menahan rasa perih albothyl untuk waktu yang akan segera berakhir?
Apakah kamu lebih memilih untuk menahan rasa perih menghindari masalah hingga waktu yang tidak bisa ditentukan, atau menahan rasa perih penyelesaian masalah untuk waktu yang akan segera berakhir?

Kunci Keberhasilan Penggunaan Albothyl:
Keberanian

Humble

You've succeeded once, or maybe several times. You remember that taste of winning, the pleasure of being superior. People knew you for y...