Hari ini tanggal 1 maret 2011, it means udah 2 tahun sejak pertama kalinya saya rekaman lagu “Kehormatan 1 Maret”. Senang? Pasti. Semua berawal dari situ. Pada saat pertama kali diajak, tidak ada keraguan untuk ikut bergabung dalam project seseru ini. Dan dari sinilah semua berawal sampai detik ini, saya begitu merasakan cinta terhadap suasana Labschool Kebayoran.
Musik adalah inspirasi, hobi, nafas, dan hidup bagi saya. Memang saya bukan seorang pakar, tapi saya hidup bersama musik disekeliling saya. Pada waktu kelas 2 SMA 1 maret 2009, saya rekaman lagu pertama bersama Nurul, Imo, Dito, dan Shasti. Tidak terlupakan sedikitpun bagaimana bahagianya saya ketika ikut dalam grup itu.
Setelah selesai merekam lagu seharian, kami menamakan judul lagu. Beda-beda pendapat dan akhirnya seingat saya memang belum pernah fix ditentukan judul aslinya, dan selama ini saya selalu menamai lagu tersebut “Kehormatan 1 Maret”. It was a huge day, dengan karya pertama tersebut, setidaknya bagi saya, saya merasa akan terus berkecimpung di dunia musik bersama teman-teman Labschool Kebayoran. Saya bahagia bersama mereka. They are fun and always bring laughs everytime. I cannot lie, high school friends and moments are two of my best things in my entire life. Ga bakal banget bisa dilupakan. Terlalu indah. Terlalu seru. Terlalu disayangkan kenapa harus berakhir secepat ini. Terlalu berwarna sampai tidak bisa saya lepaskan.
Kemarin saya menghabiskan 3 hari bersama dengan anak-anak Labschool Kebayoran, yaitu Nurul, Jodhi, Cici, dan Rangga, para seniman ulung. Kami mengikuti lomba kompas muda. Saat saya menghabiskan waktu bersama mereka, saya merasa hidup ini mulai kembali mendapatkan stimulus keseruan seni yang sudah tidak sesering dulu saya rasakan. Saya tertawa sampai menangis, bahagia, mengenal orang baru, bercanda, membuka sifat yang hanya bisa saya buka bersama mereka. Kehidupan seni yang penuh musikalitas yang begitu menyenangkan. Tidak semua merupakan musik instrumental, kami bahkan bermain musik hanya dengan membuat suara-suara aneh dari perlajaran bahasa jepang dan memori-memori masa kecil. Tapi saya merasa sangat hidup, benar-benar hidup.
Tapi 3 hari, saya hanya merasakannya 3 hari kemarin. Dan saya merasakan sebuah perasaan yang sedang sangat populer di kalangan remaja saat ini, yaitu galau. Saya merasa galau ingin kembali ke masa SMA, tidak ingin berpisah dengan orang-orang penuh seni tersebut. Tidak kuat kembali membuka mata menatap realita dimana saya harus menghabiskan waktu di kampus dan menjadi seorang mahasiswa. Untuk pertama kalinya, saya sangat ingin kembali menjadi anak SMA. Ingin mewarnai hari-hari ini penuh dengan cerita yang menyenangkan, berseni, dan pernuh tawa.
Tapi hidup tidak bisa di hentikan dan dilanjutkan lagi, ataupun di ulang ke masa sebelumnya. Hidup hanya bisa berjalan terus maju. Saya punya pilihan untuk menyikapi hal ini, terus meratapi masa SMA saya tanpa berjalan dengan waktu yang juga berjalan, atau berlari mengejar masa depan yang (insyaAllah) akan lebih berwarna lagi dengan menyimpan memori SMA tersebut di sanubari selamanya dan terus berkarya. Saya memilih yang kedua, saya tidak mau menjadi orang yang terperangkap dalam memori. Saya harus terus hidup, saya harus terus maju. Detak jantung saya setiap saat adalah musik yang mewarnai dunia saya. Saya masih dapat merasakan getaran-getaran SMA yang akan selalu terkenang, tapi saya sudah di universitas. It’s time to move on. Kehidupan sudah berbeda. Saya pun masih bisa tetap berkoneksi dengan sahabat-sahabat Labschool Kebayoran yang saya sayangi.
Sebagai kesimpulan, saya bersyukur. Bersyukur kepada Allah SWT karena apa yang saya telah miliki dulu, di SMA Labschool Kebayoran merupakan suatu yang sangatlah luar biasa dan beruntunglah saya dapat merasakan hal tersebut. Bersyukur juga saya karena kehidupan SMA itu masih dapat saya rasakan sekali-kali ketika berkumpul dengan teman-teman Labschool Kebayoran. Dan bersyukurlah saya karena masih sadar bahwa hidup ini masih harus berlanjut. Bersyukur, bersyukur, bersyukur.
No comments:
Post a Comment